Home » , , , » Al Sijzi (945-1020 M)

Al Sijzi (945-1020 M)


Al-Sijzi yang nama lengkapnya Abu Said Ahmad bin Muhammad bin Abd al-Jalil al-Sijzi, juga dikenal sebagai Al Sinjari atau Al Sizaji, merupakan seorang ilmuwan yang ahli di bidang astronomi dan matematika. Dia dilahirkan pada tahun 945 di Sijistan, Persia. Dia merupakan ilmuwan yang dikenal dekat dengan Al Biruni yang juga ahli astronomi dan matematika. Salah satu bukti bahwa Al-Sijzi berhubungan dekat dengan Al-Biruni adalah adanya surat yang dikirimkan oleh Al-Biruni kepada Al-Sijzi. Surat tersebut berisi bukti-bukti dari pesawat dan bola versi teorema sinus.

http://www.mathyards.com/knill/images/sijzi.jpg
Dia mendedikasikan karya-karyanya baik karya astronomi maupun matematika untuk Pangeran Balkh di yang berkuasa di kota Khorasan. Karyanya yang lain dia persembahkan kepada Adud ad-Dawlah, seorang penguasa seluruh selatan Iran dan sebagian besar Irak yang hidup antara tahun 949 hingga tahun 983 masehi. Adud ad-Dawlah kemungkinan besar merupakan pelindung Al-Sijzi, mengingat dia merupakan seorang pemimpin yang terkenal mencintai seni dan ilmu pengetahuan. Pada era kekalifahan sudah menjadi hal yang sangat umum dan lumrah jika para pelajar dan para ilmuwan memiliki pelindung dari dinasti yang sedang berkuasa. Dengan adanya para pelindung tersebut maka baik ilmuwan maupun pelajar bisa mengerjakan penelitian serta eksperimen mereka dengan tenang sehingga mereka bisa mendapatkan penemuan-penemuan yang menakjubkan yang penting bagi masyarakat maupun bagi pemerintah.

Sijzi yang bekerja di Syiraz melakukan pengamatan astronomi selama tahun 969 hingga 970. Pengamatan astronomi Al Sijzi membuahkan teori Heliosentris yang menggemparkan dunia pada masa itu. Pemikiran Al Sijzi mengenai sistem heliosentris dapat dilihat dari karya-karya Al Biruni yang sering bertukar pikiran dengannya. Dalam karya Al Biruni yang berjudul Isti'ab Al-Wujuh Al-Mumkina fi San'at Al-Usturlab yang berisi tentang astronomi dan astrolabe, Al Biruni mengatakan, dia telah melihat astrolabe yang ditemukan Abu Sa'id Al Sijzi. Astrolabe ini hanyalah satu-satunya dari barang sejenis. Astrolabe tersebut tidak tersusun dari bagian utara dan bagian selatan. Dia sangat menyukai astrolabe tersebut karena benda tersebut memiliki beberapa efek sehingga pergerakan disaksikan disebabkan oleh bumi, bukan langit.

Sementara itu, seorang ilmuwan ahli astronomi lain yang bernama Abu Al Hasan Al Marakushi dalam bukunya yang berjudul Jami Al Mabadi wa Al Ghayat (Pemersatu prinsip-prinsip dan akibat-akibat) menyatakan, astrolabe Al Sijzi dibuat berdasarkan pergerakan bumi mengelilingi matahari berdasarkan teori Heliosentris yang menyatakan bahwa bumi berbentuk bulat serta berputar mengelilingi sumbunya, beserta planet lainnya beredar mengelilingi matahari. Hal tersebut membuktikan bahwa Al Sijzi merupakan penemu teori Heliosentris yang masih diragukan kebenarannya oleh banyak orang pada masa itu, termasuk umat Muslim pada masa itu sendiri. 

Menurut catatan sejarah yang dikutip dalam buku berjudul Para Tokoh Sejarah Klasik, pada saat Al Sijzi menyatakan gagasannya tentang teori Heliosentris, dia banyak mendapatkan kritikan dari para ilmuwan Muslim lainnya termasuk Ibn Sina yang sangat termasyhur dalam bidang kedokteran dan Fakhr al-Din al-Razi, seorang ilmuwan Persia yang ahli dalam bidang kedokteran, fisika, astrologi, hukum dan sejarah.
Bahkan Al Biruni sendiri yang sering bertukar ide dan pikiran baik dalam bidang astronomi maupun matematika dengan Al Sijzi, sebenarnya ragu dengan teori Heliosentris Al Sijzi. Meskipun dia merupakan ilmuwan yang kelihatannya menerima teori yang dikemukakan oleh teman baiknya tersebut.

Al Biruni menyebut matahari dan sistem geosentrik dalam karyanya yang berjudul Kitab Al Hind dan Al Qanun Al mas'udi yang berisi tentang astronomi. Dalam karyanya tersebut, dia menyatakan, sebenarnya pergerakan bumi tidak merusak nilai astronomi karena semua penampilan suatu karakter astronomi dapat dijelaskan manurut teori Heliosentris sebagaimana juga bagi yang lain. Tetapi terdapat alasan-alasan lain yang menjadikannya mustahil. Masalah tersebut sungguh sulit dipecahkan. Para astronom kuno maupun modern yang paling hebat sekalipun sudah mempelajari masalah pergerakan bumi dan mencoba membantahnya. Al Biruni juga menulis buku berjudul Miftah Ilm Al Hay'ah (Kunci Ilmu Astronomi) yang berisi masalah tersebut.

Meskipun Al Biruni sudah berusaha keras untuk menerima gagasan Al Sijzi tentang teori Heliosentris, pada akhirnya dia tidak bisa mengingkari kata hatinya. Menjelang akhir hayatnya, Al Biruni akhirnya menegaskan bahwa dia mendukung teori geosentrik yang ternyata justru tidak benar pada masa modern ini.
Saat bekerja di Shiraz, Al Sijzi tidak hanya menghabiskan waktu untuk memperdalam ilmu astronomi saja. 

Di sana, dia banyak menuliskan karya-karya matematika. Selain menuliskan karya-karya aslinya sendiri, dia juga menyalin karya ilmuwan matematika yang lain, Tsabit bin Qurra yang karyanya berupa risalah segi empat lengkap. Dia juga memberikan sumbangan bagi perkembangan ilmu matematika dengan melakukan studi khusus tentang persimpangan bagian-bagian kerucut dan lingkaran-lingkaran. Dia juga mengganti teori persimpangan gerak sebuah sudut dengan menggunakan pemecahan geometri. Dia menulis risalah pemecahan masalah geometri. Di antara masalah-masalah yang dibahas dalam bukunya tersebut adalah lingkaran dan segitiga.

Dalam sebuah risalahnya tentang bola, dia menuliskan tentang pengukuran bola. Selain itu dalam risalahnya itu terdapat 12 teorema yang isinya menginvestigasi sebuah bola besar yang berisi satu hingga tiga bola kecil. Karyanya ini mengungkapkan ide Al Sijzi tentang empat dimensi bola yang dibuat pada tahun 969 masehi ketika dia masih sangat muda.

Galileo, Pendukung Teori Heliosentris yang Dihukum

 
Kalau saja seluruh manusia, termasuk umat Muslim di seluruh muka bumi ini percaya bahwa bumilah yang mengelilingi matahari, pasti Galileo yang nama lengkapnya Galileo Galilei , seorang ilmuwan ahli astronomi dan fisika dari Italia tidak akan dijatuhi hukuman berat oleh gereja yang sedang berkuasa pada masa itu. Sebab Galileo yang lahir pada tahun 1564 merupakan penerus teori Heliosentris yang ditemukan oleh Al Sijzi sebelumnya. Sama dengan sikap Al Sijzi, Galileo bersikukuh bahwa bumi yang mengelilingi matahari, bukan matahari yang mengelilingi bumi.
Akibat dukungannya terhadap teori Heliosentris, Galileo dianggap merusak iman dan diajukan ke pengadilan gereja Italia pada tanggal 22 Juni 1633. Pemikirannya tentang matahari sebagai pusat tata surya bertentangan dengan ajaran Aristoteles maupun keyakinan gereja bahwa bumi merupakan pusat alam semesta. Pada masa itu, Aristoteles merupakan ilmuwan yang sangat dipuja di negara barat. Sehingga apapun perkataannya seolah-olah merupakan kebenaran. Padahal teori geosentris Aristoteles tersebut salah. Orang-orang pada masa itu mengira bahwa bumi itu diam dan mataharilah yang bergerak mengelilingi bumi sebab seolah-olah memang matahari itu yang bergerak karena jika diliat dengan mata biasa matahari berpindah-pindah saat pergantian waktu dari pagi, siang, dan malam.
Karena Galileo keras kepala dan tetap yakin dengan teori Heliosentris, pengadilan gereja menghukumnya dengan pengucilan sebagai tahanan rumah hingga dia menghembuskan nafas terakhirnya. Namun, setelah meninggalnya Galileo, berbagai macam penelitian tentang astronomi dari tahun ke tahun semakin menunjukkan kebenaran teori Heliosentris yang ditemukan oleh Al Sijzi dan didukung oleh Galileo. Akhirnya dunia pun mengakui kebenaran teori Heliosentris dan membuktikan bahwa teori Geosentris ternyata salah.
Menurut wikipedia.org, baru pada tahun 1992 Paus Yohanes Paulus II menyatakan secara resmi bahwa keputusan penghukuman kepada Gelileo merupakan sebuah kesalahan. Lalu dalam pidato 21 Desember 2008, Paus Benediktus XVI menyatakan bahwa Gereja Katolik Roma merehabilitasi namanya dan mengakuinya sebagai ilmuwan.
Galileo, selain memiliki konstribusi besar terhadap penyebaran teori Heliosentris juga penyempurnaan teleskop serta berbagai macam alat observasi astronomi. Dia juga orang pertama yang memakainya untuk mengamati langit. Pada Awalnya, Dia membuat teleskop hanya berdasarkan deskripsi tentang teleskop yang dibuat di Belanda, lalu dia membuat sebuah teleskop dengan perbesaran 3x dan kemudian membuat model-model baru yang bisa mencapai 32x. Pada tanggal 25 Agustus 1609, dia mendemonstrasikan teleskop buatannya. Setelah itu, banyak pedagang yang memanfaatkan teleskopnya untuk keperluan pelayaran. 

dikutip dari:

0 komentar:

Posting Komentar

Flag Counter
Ali Ibnu Hamidhan. Diberdayakan oleh Blogger.

Comments