Home » , , , » Al Mu'tashim Billah (833-842 M)

Al Mu'tashim Billah (833-842 M)


Ia adalah Muhammad bin Harun Ar-Rasyid. Ia menjabat sebagai khalifah menggantikan saudaranya, Al-Makmun. Dalam literatur sejarah, ia dikenal dengan julukan Al-Mu'tashim Billah (Yang Berlindung kepada Allah). Ia adalah Khalifah Abbasiyah yang pertama kali menghubungkan nama Allah dengan namanya.
Sejak muda Al-Mu'tashim (833-842 M) tergolong seorang  militer yang memegang kedisiplinan tinggi. Ia mempunyai tubuh yang kekar dan kuat. Itu juga alasan pendahulunya, Al-Makmun, memindahkan hak khilafah dari putranya kepada saudaranya ini. Apalagi lawan mereka, pihak Byzantium dipimpin oleh seorang ahli militer dan strategi perang.
Sayangnya, pihak tentara sendiri justru kurang setuju dengan pengangkatan Al-Mu'tashim. Bahkan mereka ramai-ramai mengangkat Abbas bin Makmun untuk didaulat sebagai khalifah. Al-Mu'tashim segera memanggil keponakannya itu ke markas induk pasukan. Seelah dinasihati, akhirnya Abbas sadar dan kembali mengangkat baiat atas pamannya itu.

Kendati sudah bersikap lunak, Khalifah Al-Mu'tashim tetap harus menghadapi perlawanan dari pihak Alawiyah. Kali ini dipimpin oleh Muhammad bin Qasim bin Umar bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib. Perlawanan itu segera dipadamkan. Pimpinannya ditawan.

Lagi-lagi dengan sikap lunaknya, Khalifah Al-Mu'tashim mengubah hukuman mati dengan hukuman penjara. Namun pada suatu perayaan Hari Raya Idul Fitri, Muhammad bin Qasim melarikan diri dan sejak saat itu tak diketahui rimbanya.

Di tengah segala kerusuhan itu, Al-Mu'tashim masih sempat membangun sebuah kota indah yang dikenal dengan nama Sarra Man Ra'a (menggembirakan orang yang melihatnya). Lambat laun kota itu dikenal dengan nama Samarra. Sejak itu, pusat pemerintahan dipindahkan ke kota Samarra yang semula berada di Baghdad.
Dalam kitab al-Kamil fi al-Tarikh karya Ibn Al-Athir. Peristiwa bersejarah tersebut terjadi pada tahun 223 Hijriyyah, yang disebut dengan Penaklukan kota Ammuriah.
Pada tahun 837, al-Mu’tasim Billah menyahut seruan seorang budak muslimah yang konon berasal dari Bani Hasyim yang sedang berbelanja di pasar. yang meminta pertolongan karena diganggu dan dilecehkan oleh orang Romawi. Kainnya dikaitkanke paku sehingga ketika berdiri, terlihatlah sebagian auratnya.
Wanita itu lalu berteriak memanggil nama Khalifah Al-Mu'tashim Billah dengan lafadz yang legendaris yang terus terngiang dalam telinga seorang muslim: "waa Mu'tashimaah!" (di mana engkau wahai Mutashim... Tolonglah aku!)

Setelah mendapat laporan mengenai pelecehan ini, maka sang Khalifah pun menurunkan puluhan ribu pasukan untuk menyerbu kota Ammuriah (Turki). Seseorang meriwayatkan bahwa kepala pasukan ini telah menggedor pintu gerbang kota Ammmuriah (Turki) sementara ekor pasukannya masih ada di pintu gerbang kota Baghdad. Begitu besarnya pasukan yang dikerahkan oleh khalifah.
 
Hasil gambar untuk al mu'tashim billah
Catatan sejarah menyatakan di bulan April, 833 Masehi, kota Ammuriah dikepung oleh tentara Muslim selama kurang lebih lima bulan hingga akhirnya takluk di tangan Khalifah al-Mu'tasim pada tanggal 13 Agustus 833 Masehi.
Sebanyak 30.000 prajurit Romawi terbunuh dan 30.000 lainnya ditawan. Pembelaan kepada Muslimah ini sekaligus dimaksudkan oleh khalifah sebagai pembebasan Ammuriah dari jajahan Romawi.
Setelah menduduki kota tersebut, khalifah memanggil sang pelapor untuk ditunjukkan dimana rumah wanita tersebut, saat berjumpa dengannya ia mengucapkan "Wahai saudariku, apakah aku telah memenuhi seruanmu atasku?". Dan sang budak wanita inipun dimerdekaka oleh khalifah serta orang romawi yang melecehkannya dijadikan budak bagi wanita tersebut.
Kendati Khalifah Al-Mu'tashim adalah seorang militer sejati, namun perlakuannya terhadap Imam Ahmad bin Hanbal tidak berubah. Imam Ahmad tetap dipenjara. Namun lambat-laun perlakuan Al-Mu'tashim terhadap Imam Ahmad mulai berubah. Bahkan ia mengagumi keberanian sang Imam.

Para ahli sejarah ada yang menyebutnya dengan Al-Mutsammim atau sang Delapan. Mengapa demikian? Karena ia sangat akrab dengan angka delapan. Al-Mu'tashim menjabat khalifah ke-8 Bani Abbasiyah. Ia wafat dalam usia 38 tahun. Masa pemerintahannya menurut kalender Hijriyah berusia 8 tahun 8 bulan dan 8 hari. Ketika wafat, ia meninggalkan 8 putra dan 8 putri. Apakah fakta ini benar atau tidak, Wallahua'lam. Seandainya pun benar, itu hanyalah suatu kebetulan belaka. Tak ada hubungannya dengan segala keberhasilan sang khalifah.

0 komentar:

Posting Komentar

Flag Counter
Ali Ibnu Hamidhan. Diberdayakan oleh Blogger.

Comments