Home » , , , » Khalifah Harun Ar Rasyid (763-809 M)

Khalifah Harun Ar Rasyid (763-809 M)

Oleh : Iqbal Kholidi (http://chirpstory.com)
Muslimedianews.com ~ Dia bernama Ar Rasyid atau Harun Abu Ja'far bin Al Mahdi bin Al Manshur. Banyak yg mengenalnya dengan nama Harun Ar Rasyid. Dia menjadi Khalifah setelah kematian saudaranya, Al Hadi. Al Hadi meninggal pada malam Sabtu pada tanggal 16 Rabiul Awal tahun 170 H.
As Shuli berkata: “Pada malam itu pula dilahirkan anaknya, Abdullah Al Ma'mun. Tidak ada satu malam pun dalam sejarah manusia dimana ada seorang Khalifah mangkat lalu dinobatkan Khalifah yg baru dan lahir pada saat itu juga seorang calon Khalifah kecuali malam itu.”



 Harun Ar Rasyid dilahirkan pada tahun 148 H, di Ray, saat ayahnya menjadi gubernur wilayah itu dan wilayah Khurasan. Ar Rasyid berkulit putih, postur tubuhnya tinggi dengan wajah rupawan dan murah senyum. Kata-katanya fasih dan memiliki wawasan luas.

Pada masa dia menjadi Khalifah dia selalu melakukan Shalat sebanyak seratus raka'at setiap hari, istiqomah sampai dia meninggal. Dia tidak pernah meninggalkan kebiasaan tersebut kecuali dalam keadaan sakit. Dia juga bersedekah dari sakunya sendiri sebanyak seribu dirham setiap hari. Dia adalah sosok Khalifah yg mencintai ilmu dan sangat senang kepada orang-orang yg berilmu.

Dia sangat tidak senang perdebatan dalam masalah agama dan tidak suka membicarakan sesuatu yg telah jelas nashnya dalam agama. Dia khalifah yg mudah menangis atas kesalahan dan dosa-dosa yg dilakukannya, khususnya jika dinasehati. Jika ada orang yg memujinya dia akan memberikan sejumlah uang dalam jumlah besar. Dia memiliki banyak syair-syair.

Harun Ar Rasyid menangis tersedu-sedu setelah dinasehati Ibnu Sammak, seorang yg dikenal tajam dalam memberikan nasehat.
Bahkan lebih jauh Harun adalah sosok Khalifah yg gemar datang sendiri kepada Fudhail bin Iyadh, seorang yg dikenal sangat zuhud. Pada saat itu, Harun Ar Rasyid lewat. Fudhail melihatnya dan berkata; “Banyak orang tidak menyukai orang ini, padahal tidak ada orang yg saya anggap terhormat daripadanya jika dia nanti mati, maka akan terjadi satu peristiwa yg sangat menggemparkan.”

Tidak pernah satu kalipun saat nama Rasulullah disebutkan dihadapan Harun, kecuali dia akan selalu mengucapkan shalawat.

Pada tahun 179 H. Ar Rasyid melakukan umrah dari sejak bulan Ramadhan. Dia tetap dalam keadaan ihram hingga datang bulan Haji.  Pada tahun 180 H, terjadi gempa hebat yg menjatuhkan menara-menara Alexandria. Setahun kemudian benteng Shafshaf berhasil dibuka melalui kontak senjata. Ar Rasyid sendiri memimpin penaklukan tempat itu.

Pada tahun 183 H, orang-orang Khazar melakukan pemberontakan di Armenia. Peristiwa itu sangat memilukan karena pada saat itu darah kaum muslimin banyak yg tumpah, bahkan lebih dari seratus ribu penduduk ditawan. Satu peristiwa yg menoreh goresan sejarah yg dalam, karena peristiwa semacam ini belum pernah terjadi sebelumnya.

Pada tahun 187 H. Harun Ar Rasyid menerima surat dari Kaisar Romawi, Naqfur (Nicephorus I [802-81] ). Surat itu berisi pembatalan kesepakatan yg ada antara kaum muslimin dan Ratu Irene — Ratu Romawi. “Jika kamu selesai membaca surat ini, maka kembalikan harta yg telah Ratu Irene serahkan kepadamu selama ini. Jika tidak maka pedanglah yg akan bermain untuk menyelesaikan permasalahan antara aku dan kamu!”.

Harun Ar Rasyid membalas surat Raja Romawi tersebut; “Saya telah membaca surat anda dengan jelas. Sebagai jawabannya adalah apa yg akan kau lihat, bukan apa yg kau dengar. Salam.”

Harun Ar Rasyid berangkat hari itu juga dan dia terus merangsek, puncaknya tatkala dia menaklukan Heraclia. Akhirnya Neciphorus meminta dilakukan perdamaian dengan cara membayar upeti setiap tahunnya.

Pada tahun itu juga, Harun menebus semua kaum muslimin yg ditawan di wilayah-wilayah Romawi sehingga tidak tersisa seorang tawanan pun.

Pada tahun 192 H. Ar Rasyid bergerak menuju Khurasan. Dia sempat berbicara pada pengantarnya yg bernama Shabah Ath-Thabari.  “Wahai Shabah, engkau tidak akan melihatku lagi setelah ini.” Shabah berkata, “semoga Allah mengembalikan engkau dalam keadaan selamat!”. Harun berkata lagi,“Saya kira kau tidak tahu apa yg ada pada diriku”. “Ya, demi Allah, saya memang tidak tahu.” Jawab Shabah. Harun berkata “datanglah ke sini, aku perlihatkan apa yg ada padaku.” Lalu dia menepi ke tepi jalan dan memberi isyarat kepada para pengikutnya agar mereka segera menyingkir dari tempat itu. Lalu Harun berkata, “Wahai Shabah, saya minta agar kamu tidak memberitahukan kepada siapa saja tentang hal ini.” Harun Ar Rasyid lalu membuka bagian perutnya yg ternyata diikat dengan kain sutera, lalu dia berkata: “Ini adalah penyakit yg saya sembunyikan kepada siapa saja. Semua anakku telah menunggu kematianku.” Sambil menatap Shabah, Harun menaiki kuda, mengucapkan selamat tinggal dan berangkat ke Jurjan.

Pada bulan Shafar tahun 193 H. Dia melanjutkan perjalanan ke Thus dalam keadaan sakit. Akhirnya dia meninggal dunia di tempat itu.

Harun Ar Rasyid membaiat anaknya Muhammad sebagai putra mahkota pada tahun 175 H. Muhammad diberi gelar Al Amien.  Padahal saat itu dia masih berusia 5 tahun. Ini terjadi karena ibunya Zubaidah menginginkan agar anaknya kelak menjadi khalifah.

Adz Dzahabi berkata, “ini adalah kelemahan pertama yg terjadi dalam Daulah Islamiyah pada masalah Imamah.”

Kemudian dia membaiat anaknya yg bernama Abdullah dengan gelar Al Ma'mun pada tahun 182 H, dia menguasai seluruh kerajaan kecil di Khurasan.  Setelah membaiat dua anaknya, dia membaiat anaknya Al Qasim pada tahun 186 H sebagai putra mahkota, dia memberinya gelar Al Mu'taman.

Harun Ar Rasyid memberikan kepadanya kekuasaan di Al Jazirah dan Thugur dalam usianya yg masih kanak-kanak.  Setelah membagi-bagikan dunia kepada 3 anaknya itu, orang-orang bijak kala itu berkata; “Dia telah menciptakan satu derita di kalangan mereka sendiri dan menimbulkan bencana yg demikian besar di tengah-tengah rakyatnya.”

Sedangkan para penyair menyanjungnya dengan pujian-pujian tatkala terjadi pembaiatan tersebut.

Harun Ar Rasyid memampangkan surat pembaiatan itu di dinding Ka'bah.

Qadhi Al Fadhil pernah berkata: “Saya tidak pernah mendengar dan mendapatkan seorang Raja yg melakukan pengembaraan untuk menuntut ilmu kecuali Harun Ar Rasyid. Sesungguhnya dia telah melakukan perjalanan bersama kedua anaknya Al Amien & Al Ma'mun utk mendengarkan kitab Al Muwaththa' dr Imam Malik.”

Sedangkan pokok-pokok Al Muwaththa' yg merupakan hasil simakan Ar Rasyid ada di perpustakaan Iskandariyah (Alexandria). Pd masa pemerintahannya, Shalahuddin Al Ayyubi melakukan perjalanan ke Alexandria utk mendengarkan Hadits Al Muwaththa' yg ditulis Ar Rasyid.

Al Fadhil berkata, “saya tidak tahu apakah ada raja ketiga yg melakukan hal yg sama seperti apa yg dilakukan oleh kedua raja itu.”

Abu Nuwas melantunkan bait syair kepada Harun Ar Rasyid: “Aku pernah takut padamu, lalu aku merasa aman karena aku tahu kau takut pada Tuhan.” [Abu Nuwas]

Seperti telah dikisahkan di atas, Harun Ar Rasyid meninggal saat memimpin perang di Thus, sebuah kota di wilayah Khurasan.  Dia dikuburkan di tempat itu pada tanggal 3 Jumadil Akhir 193 H. Pada saat meninggal dia berusia 45 tahun.

Ash Shuli berkata, “Pada saat Harun meninggal dunia, dia meninggalkan uang sebanyak 1 juta dinar.”

Di samping itu dia juga meninggalkan perabot rumah, mutiara, uang serta binatang piaraan yg nilainya diperkirakan sekitar 1.025.000 dinar. Sebagian yg lain mengatakan bahwa penyebab kematian Harun Ar Rasyid karena malpraktek pengobatan yg dilakukan Jibril bin Bakhtaysyu'.

Disebutkan pula bahwa Harun Ar Rasyid pernah bermimpi, bahwa dirinya meninggal di Thus. Kemudian dia menangis sambil berkata, “Gali buatku kuburan!.” Lalu orang-orang menggalikan kuburan untuknya. Dia kemudian dibawa di atas usungan yg diangkut oleh unta. Dengan unta itu dia dibawa melihat kuburan yg dia perintahkan untuk menggalinya. Sambil melihat galian kuburan itu, dia berkata: “Wahai anak Adam apakah pada tempat yg demikian ini kalian akan kembali.”

Saat Harun Ar Rasyid meninggal, Al Amien, anaknya, segera dilantik. Saat itu Al Amien berada di Baghdad di tengah-tengah bala tentara.  Setelah kabar kematian ayahnya sampai ke telinganya, dia melakukan shalat bersama kaum muslimin. Dia berkhutbah serta mengabarkan kematian Harun Ar Rasyid kepada penduduk Baghdad. Lalu mereka membaiatnya.

Sedangkan Roja', pelayannya, segera mengambil selendang, pedang dan stempel negara  lalu dia membawa barang-barang itu melalui darat selama 12 hari dari Marwa menuju Baghdad. Sesampainya di Baghdad dia memberikan semua barang berharga itu kepada Al Amien

Muhammad bin Ali Al Khurasani berkata: Harun Ar Rasyid adalah khalifah yg pertama kali bermain Hockey & Sepak Bola. Harun Ar Rasyid adalah Khalifah yg mampu melemparkan anak panah ke lilin yg diletakkan di atas kuda.  Harun Ar Rasyid adalah khalifah Bani Abbas pertama yg bermain catur.

Ada kisah menarik tatkala Harun Ar Rasyid mengirimkan jam sebagai hadiah pada Chalemagne seorang penguasa di Eropa. Jam yg setiap jamnya berbunyi itu disangka oleh orang-orang Eropa bahwa di dalam jam tadi ada jinnya sehingga mereka merasa ketakutan.

Philip K. Hitti (History of Arab) mengatakan bahwa jarak peradaban antara kaum muslimin di bawah pimpinan Harun Ar Rasyid jauh melampaui peradaban yg ada pada orang-orang Kristen pimpinan Charlemagne. Maka tak heran jika jam buatan kaum muslimin saat itu dianggap ada jinnya.

Pada masa kekhalifahan Harun Ar Rasyid beberapa tokoh penting umat Islam yg meninggal antara lain: Malik bin Anas, Imam Sibawaih (pakar ilmu bahasa Arab), Al Kisai (guru besar qiraat dan gramatika bahasa Arab), Ibnu Sammak (pemberi nasehat yg tajam), Muhammad Hasan asy syaibani (murid Abu Hanifah), Sha'sha'ah bin Salam seorang alim Andalusia salah seorang murid terkemuka Imam Malik.

Demikian, sebagai penutup saya akan gubah sebuah syair Abu Nuwas tentang wafatnya Harun Ar Rasyid. Satu syair yg menyatukan antara bela sungkawa dan suka cita.

“..Gadis- gadis berlari dengan gembira bercampur duka.. kita kini berada dalam suasana kematian dan pesta.. ..Hati ini menangis duka, sementara mata tertawa suka.. kita kini berada dalam keliaran dan kejinakan..  ..Dinobatkannya Al Amien membuat kita bersuka cita.. Namun kita menangis atas wafatnya imam kita.. ..Dua purnama, satu kini duduk di Baghdad, sedang purnama lain di Thus sedang tenggelam..”

— sekian —

0 komentar:

Posting Komentar

Flag Counter
Ali Ibnu Hamidhan. Diberdayakan oleh Blogger.

Comments